Pagar Nyandar Punya Sabia

Kamis, 15 Februari 2018

Sehari Di Pulau Penawar Rindu

Dokumen By: Google


Me Time..
Dari barisan teman-teman pelaku UKM, belum dengar ada yang me time nya ke salon. Apalagi saya, yang sukanya ke toko buku dan tempat pernak-pernik.  Kebanyakan teman saya memanjakan diri dengan nobar (nongkrong bareng) makan-makan sambil jalan-jalan.



Pengalaman nyebrang laut..  saya sudah beberapa kali sih sebenarnya, namun masih sering paranoid merasakan deburan ombak.
Yang paling mendebarkan ketika naik pompong ke Kecamatan Belakang Padang yang memiliki sebutan Pulau Penawar Rindu. 

Senyum sumringah supaya tidak dbully karena takut air

Cocok dengan sebutannya, kami ingin kembali kesana bila tidak disibukkan dengan kegiatan.
Lumayan murah ongkos ke BLP. 
Tarif pompong 15 ribu sekali jalan, jadi PP 30 ribu.  Jika naiknya rombongan,   bayar antara 130 ribu sampai 150 ribu.
Dan ternyata pompong tidak ada jam terakhir. Setiap saat ada penambang yang standby disana, tak perlu takut kehabisan pompong.
Cuma kita mesti carter sendiri dengan harga rata-rata 130 ribu untuk 2 orang dan jika lebih dari 4 orang biasanya penambang meminta 150 ribu rupiah.


Dokumen by: Nurmaneli Amri


Diujung pelabuhan, kita bisa memilih jalan kaki atau  naik becak. Harga 50 ribu bisa keliling BLP.
Jangan terkejut nanti bila menumpang becak. Meskipun jalanan sempit didepan rumah warga, si abang becak tak pernah pelan mengayuh becaknya. Hampir semua begitu laju mengendarai becak. Tetapi mereka nampak sangat lihai dan bisa mengendalikan kendaraan beroda tiga itu. Geleng-geleng kepala...


Diujung pelabuhan ada pangkalan becak


Tiba di ujung jalan sempit menuju pantai Pasir Putih, kami diturunkan.  Karena becak sudah tidak boleh lebih masuk lagi.  Berjalan sedikit ke pintu masuk yang dikelola oleh salah satu warga. 
Harga tiket masuk 5 ribu perorang. Ada beberapa meja kursi dari semen disana. Namun kami langsung menuju gazebo yang jumlahnya cuma satu itu sebelum keduluan orang.


Dokumen by: Srinovia

Teman kami yang memang tinggal di BLP ini sudah menunggu kami. Di gazebo langsung digelar semua bekal yang disediakan untuk kami yang dari Batam. 
Ada roti kirai, sambal bilis, mie goreng dan beraneka macam masakan.


Dokumen by: Srinovia, masakan Risda Snack (imel)


Sambil menyajikan makanan, kami ngobrol tentang apa yang jadi keunggulan di BLP.
Banyak mangga..😄 
Hampir setiap rumah mempunyai pohon mangga, dan berbuah sepanjang masa. 
Selain itu, gonggong mudah didapat karena orang disana banyak bekarang. Ketika saya tanyakan bekarang itu apa? ternyata sebtan untuk pergi ke laut mencari gonggong.
Biasanya kalau sore mencari gonggong, kalau malam dapatnya udang.


Dokumen by: Srinovia, Ngobrol di gazebo


Obrolan berlanjut tentang keinginan menginap. Di BLP ada beberapa penginapan, salah satunya ada Hotel Asia.
Jika ingin berkemah, bisa meminta ijin pada pengelola pantai Pasir Putih. Atau.. biasanya anak-anak Pramuka berkemah di Lapangan Indra Sakti. Dari pelabuhan belok kiri.  Dulu di Lang-lang (dataran lang-lang laut), tapi sekarang banyak orang berjualan jadi ramai dan kurang asyik untuk berkemah.

Dokumen by: Srinovia


Tak terasa air laut sudah mulai pasang, menandakan hari mulai petang.  Kami berkemas untuk meninggalkan pantai.  Dan bergeser berjalan menuju rumah teman kami, kak Imel. Lumayan jauh dari pantai. Saya dibonceng kak Imel dengan motor, sambil memanggil beberapa becak untuk menjemput teman-teman.


Setelah singgah beberapa jam, akhirnya kamipun memutuskan pulang kembali ke Batam. Dan sesampai di pelabuhan, kami juga di persilahkan singgah ke counter oleh-oleh Almira Cake and Bakery.
Dari sana kami benar-benar seperti turis, yang pulang membawa banyak oleh-oleh.

Dokumen by: Srinovia


Kalau ingin cerita yang lebih seru, baca disini ya.  Yuk kita ke pulau Penawar Rindu....

2 komentar:

  1. dlu pernah kesana, tapi ga sempat menjelajah, jadi pengen kesana lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe...saya pingin kesana lagi dan berkemah bersama krucil

      Hapus