Pagar Nyandar Punya Sabia

Senin, 06 November 2017

Belajar Doodle

Dulu waktu masih kecil, anak-anak jaman saya, saat pelajaran menggambar disekolah, kebanyakan yang digambar adalah,  gunung kembar segitiga dengan matahari yang malu-malu sembunyi di tengahnya, atau sebuah garis horisontal yang akhirnya jadi pantai , atau kalau tidak,  gambar sebuah rumah dengan jalan setapak yang disisi-sisinya terbentang sawah yang berbentuk menyerupai huruf W .

Itulah sebuah paradigma yang secara sengaja atau tidak, telah dijejalkan pada pikiran anak-anak jaman dulu.
Kalaupun ada yang sudah bisa lepas dari kungkungan paradigma tersebut, hanya beberapa saja yang terlihat menonjol.  Misalnya, gambar rumah yang dalam imajinasinya terlihat isinya perabot dan lampu pijar yang seolah menyala.

Meskipun begitu, sekarang sudah belajar sedikiiit...,tentang doodle,  bisa membayangkan bagaimana asal gambar itu mempunyai makna.

Nah, kids jaman now..  Gambarnya seru.
Kadang-kadang, kita sebagai orang tua merasa ternganga dari mana ide gambar itu didapatnya.  Mendapatkan perintah yang sama, tetapi menghasilkan gambar yang berbeda.

Seperti yang pernah kami lakukan dirumah, bersama kru 1-4 ,  yang menghasilkan gambar luar biasa dan saya sangat terkejut  dengan makna yang ada didalamnya.    Karena waktu itu saya belum belajar,  saya minta bantuan seorang coach yang kebetulan sedang membuka Art Teraphy.
Sungguh saya merasa surprise dengan makna dalam setiap goresan yang menggambarkan suasana hati penggambarnya.

Umumnya, terapi doodles dapat melatih meningkatkan kreatifitas dan imajinasi serta membantu seseorang melihat suatu masalah dari sisi yang berbeda.

Saya mecoba membuktikan sendiri,

saya menggambar seolah saya sedang bahagia, bersantai duduk di kursi panjang sambil membaca buku dibawah pohon besar dihalaman belakang yang luas,  dan didepan saya ada jemuran yang melambai-lambai..



Dari coretan yang saya buat itu, dikupas diulik sampai detail, yang membuat saya merasa malu sendiri, karena semua itu mendekati benar, meskipun saya tidak mau mengungkapkannya... haha..

Sekali lagi, saya ingin membuktikan bahwa gambar adalah yang mewakili suasana hati.  Saya memfoto gambar kak Sissy yang coret-coret di kabinet tempat pakaiannya. Krucil saya yang cewek ini memang sangat suka menggambar, medianya pun sesuka hatinya.  Kemudian saya setorkan ke coach saya itu, namun bukan jawaban langsung yang saya dapatkan.
Melainkan sebuah PR, karena saya harus menanyakan siapa saja yang ada di gambar itu, agar didapat makna yang tersirat.

Wiuh...
Segitunya.... tetapi, alhamdulillah, yang saya dapatkan makna yang positif.  Karena kak Sissy tidak berada didalam gambar itu.

Nah, apabila krucil belum mau menceritakan hari ini ngapain saja atau mengungkapkan apa perasaannya,  ajak saja menggambar.

Everything happen for a reason..

#hari5
#GameLevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

1 komentar:

  1. Wow keren.. semoga bermanfaat ilmunya, rajin2 berlatih ya mbak Evi

    BalasHapus