Pagar Nyandar
Pagar Nyandar Punya Sabia

Instagram

Saturday, February 17, 2018

Membuat GIF

Kegiatan yang berhubungan dengan design, komputer dan internet sangat disukai Alit. Alit sudah melek tekhnologi sejak usia 4 tahun. Berkat tantenya yang membawakan oleh-oleh laptop sepulang kerja dari Jepang.


Dan belakangan banyak tantangan dan kepercayaan dari teman-teman saya untuk membuatkan desain pin, membuat sertifikat dan brosur.

Pekerjaan yang menurut saya sangat rumit dan melelahkan hehe..  Tetapi dengan senangnya Alit tetap menekuni kegiatan utak atik tools yang ada di layar laptop.



Semua dipelajari Alit secara otodidak. Berbekal sisa-sisa paket internet weekend Alit latihan dan sesekali mencari tutorial di youtube.
Beruntung.. saya menemukan sebuah komunitas sejalur untuk mengasah kemampuan Alit. 


Setelah ikut belajar bersama dengan komunitas yang membernya adalah para pekerja dan mahasiswa, Alit semakin mantap untuk berkarya.
Bahkan sekarang sudah mempunyai pelanggan tetap untuk dibuatkan sertifikat atas nama sebuah komunitas.

Bismillah.. semangat berkarya

#HariKe7
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP





Daun Ruku-Ruku

Jalan-jalan kali ini banyak sekali yang di dapat Sissy. Didapat dari ibu kak Dessy yang ditanam di halaman rumahnya.  Salah satunya menambah jumlah koleksi tanaman Sissy.




Daun ruku-ruku.  Tanaman yang daunnya mempunyai kemiripan dengan daun kemangi. Aromanya khas, tetapi berbeda dengan aroma daun kemangi. 
Cara memasaknya pun lain. Karena mendengar kalimat cara memasak yang berbeda, membuat Sissy tergelitik untuk bertanya, daun ruku-ruku ini untuk masakan apa saja..
Dengan senang hati ibu kak Dessy memberikan jawaban, bahwa orang Padang memasak daun ruku-ruku untuk memasak gulai. 


Jika kemangi lebih sering untuk lalapan meskipun bisa juga untuk di tambahkan ketika masakan belum diangkat dari kompor.
Sedangkan daun ruku-ruku harus dimasak dulu.  Ini kebiasaan masyarakat Sumatera Barat. 


Kebetulan Sissy senang memasak dan mencoba resep baru, jadi alangkah baiknya jika menanam sendiri pohon ruku-rukunya, karena belum pernah jumpa orang jual daun ruku-ruku di pasar.





Sissy membawa pulang bunga ruku-ruku yang sudah kering untuk di tabur dan bibit pohon yang sudah tumbuh kira-kira 20 cm. Menurutnya supaya lebih cepat untuk diambil daunnya ketika ingin mempraktekkan resep gulai dengan daun ruku-ruku.
Eh, jangan lupa merawat tanaman yang lain juga ya...

#HariKe6
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Bunga Sirsak

Sering sih Sissy makan jus sirsak. Tetapi belum pernah lihat bunganya. Jadi ketika jalan-jalan dekat kavling perumahan  nampak pohon sirsak yang sedang berbunga, langsung berhenti dan ngulik sebentar.




Ini ulasan versi Sissy. Sebab saya belum pernah mencari tahu tentang buah sirsak hehe..
Jadi ini hanya sebatas yang dilihat saja, pada kesempatan lain akan coba saya ceritakan.


 


Bunga sirsak dengan bentuknya yang unik. Menyerupai bentuk love yang cantik.  Warnanya kuning kehijauan dan wangi. 
Tebal dagingnya seolah bisa dimakan langsung, tapi bisa di makan langsung ngga ya? Katanya bisa.. buat obat batuk..
Dari bunganya saja sudah menggiurkan, apalagi buahnya.




Yah, betul nduk..
Buahnya sangat segar dan lezat. Apalagi dibikin jus diminum siang-siang.. Hmmm...
Ok.. nanti kita singgah di kedai jus untuk beli jus sirsak dan lanjutkan menganalisa semua tentang sirsak yang memiliki banyak khasiat mulai dari bunga, daun, buah, kulit batangnya bahkan akar pohon sirsak.

#HariKe5
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Tilik Baby

Berkali-kali janji mau kerumah Kak Dessy untuk nengok dedek bayi.  Tapi karena hampir selalu bersamaan dengan jadwal kegiatan yang lain, jadi bolak-balik cancel. 
Untungnya Kak Dessy ngga bawel hehe...




Tadinya sempat kecele pas nyampe rumah kak Dessy, rumahnya kosong, dan ketika ditelpon, hapenya sedang tidak aktif.
Kebetulan ada tetangganya yang tahu bahwa kak Dessy sudah beberapa hari berada dirumah ibunya.


Langsung deh, capcus meluncur kerumah ibu kak Dessy.  Dan benar kak Dessy ada dan sedang menyusui dedek Arfan. Kak Dessy sementara tinggal dirumah ibunya karena beberapa hari lalu kak Dessy dan bayinya sakit, badannya demam, sehingga membutuhkan bantuan ibu untuk menjaga dan merawat dedek Arfan. 


"Waw.. dedek Arfan gembulnya.. Padahal umurnya belum 2 bulan lo."


"Kami tadi kesana lo kak.. Ngga ada orang tapi jendelanya terbuka," Sissy menjelaskan keadaan rumah kak Dessy.


"Ngga apa-apa kok dek, ada tetangga yang jagain,"  jawab kak Dessy.


 ***

Setelah ngobrol banyak hal, tidak terasa sudah waktunya dedek Arfan mandi karena sudah sore.
Namun ngga jadi mandi, karena tengkuk dedek Arfan masih demam. Akhirnya cukup di lap-lap saja badannya agar segar.


Dengan seksama Alit dan Sissy memperhatikan kak Dessy mengelap setiap bagian tubuh dedek.
Sambil beberapa kali menunjuk bagian yang belum terkena seka lapnya, mereka seolah ingin sekali ikut memandikan dedek.
Sesekali dedek mengoceh dengan bahasa bayi, menanggapi dengan senyum-senyum seolah sedang berkomunikasi dengan Alit dan Sissy.




Sungguh tatapan yang penuh arti. Mereka bertiga bercengkerama seolah saling memahami bahasa kasih..😍  
Lucu juga mendengarkan mereka yang tanya jawab sekenanya.  Sampai hampir lupa waktu sudah sore, dan kami harus berpamitan untuk pulang.

#harike4
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Thursday, February 15, 2018

Main Sekolah-Sekolahan (Menggambar)

Lumrah anak seusia Sekolah Dasar main sekolah-sekolahan. Dulu waktu kecil saya juga main begitu. Saya seringnya sebagai murid yang menonjol.. hehe... mungkin karena saya merasa paling kecil didunia nyata, jadi pingin dianggap lebih di dunia pura-pura.


Berbeda dengan anak gadis saya ini. Sissy didunia nyata maupun pura-pura juga maunya tetap jadi yang utama. 
Sifat itu nampak ketika dia merasa tidak sepakat dengan teman-temannya.


Nah, saat main sekolah-sekolahan paling sering Sissy menjadi gurunya. Atau sebagai ketua kelas yang berperan paling utama.
Seperti saat akan memulai pelajaran menggambar atau sekedar mewarnai. Sissy menyiapkan segala perlengkapan, mulai dari pensil dan pewarna.


Cerita dan ajakan dalam gambar

Sebelum memulai kegiatan, hampir 2 kali seminggu Sissy meminta uang untuk fotocopy. Ternyata yang di fotocopy adalah gambar-gambar yang di kumpulkan Sissy dari sisa ikut kelas Art Therapy bersama Coach Ade Jamil beberapa waktu lalu.



Gambar Art Therapy


Dari ikut terapi menggambar dan mewarnai itu, Sissy menerapkan ilmu yang didapatnya pada teman-temannya.
Dan gayung bersambut, teman-teman Sissy makin betah jika Sissy menjadi ibu gurunya. Malahan selalu menunggu jurus baru yang di miliki Sissy.
Semangat berkarya nduk..

#Harike3
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Gudang Ide Sissy

Seperti ada duri di kaki Sissy. Begitu dulu kami sering menyebutnya karena Sissy tidak pernah bisa diam sejenak.
Namun semakin besar ternyata banyak hal yang bisa dihasilkan dari tangan dan kaki yang tidak bisa diam itu.


Tak perlu lama Sissy menonton sebuah tutorial membuat kriya. Cukup sekilas saja, tak perlu diulang. Dan dalam diam-diam, saya perhatikan hasilnya akan sesuai dengan yang lihat di video. Meskipun masih jauh dari kata rapi, tetapi Sissy sanggup untuk mengingat dan menjadikannya nyata.


Gaya belajar Sissy ini saya nilai condong ke arah Kinestetik. Yang merangkaikan sebuah gambaran atau pesan yang diingatnya, dicatat dan menjadi sesuatu yang nyata.



 catatan sebelum eksekusi kriya


Kriya yang dihasilkan oleh Sissy kadang-kadang tak bertahan lama berada dirumah. Sebab seringkali teman-teman Sissy memintanya untuk dibawa pulang. Atau bahkan mereka membelinya.. 😍



dompet dari kain flanel

Dengan bahan seadanya, Sissy membuat aneka dompet dan tas. Jika terus dilatih, hasilnya pasti akan lebih rapi dan menarik.
Masih banyak lagi kriya yang dibuat Sissy, dan semangatnya bertambah ketika teman-teman Sissy memintanya untuk mengajari bebikinan.
Semoga tidak menjadi sombong ya nduk.. Semangat..

#Harike2
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Sehari Di Pulau Penawar Rindu

Dokumen By: Google


Me Time..
Dari barisan teman-teman pelaku UKM, belum dengar ada yang me time nya ke salon. Apalagi saya, yang sukanya ke toko buku dan tempat pernak-pernik.  Kebanyakan teman saya memanjakan diri dengan nobar (nongkrong bareng) makan-makan sambil jalan-jalan.



Pengalaman nyebrang laut..  saya sudah beberapa kali sih sebenarnya, namun masih sering paranoid merasakan deburan ombak.
Yang paling mendebarkan ketika naik pompong ke Kecamatan Belakang Padang yang memiliki sebutan Pulau Penawar Rindu. 

Senyum sumringah supaya tidak dbully karena takut air

Cocok dengan sebutannya, kami ingin kembali kesana bila tidak disibukkan dengan kegiatan.
Lumayan murah ongkos ke BLP. 
Tarif pompong 15 ribu sekali jalan, jadi PP 30 ribu.  Jika naiknya rombongan,   bayar antara 130 ribu sampai 150 ribu.
Dan ternyata pompong tidak ada jam terakhir. Setiap saat ada penambang yang standby disana, tak perlu takut kehabisan pompong.
Cuma kita mesti carter sendiri dengan harga rata-rata 130 ribu untuk 2 orang dan jika lebih dari 4 orang biasanya penambang meminta 150 ribu rupiah.


Dokumen by: Nurmaneli Amri


Diujung pelabuhan, kita bisa memilih jalan kaki atau  naik becak. Harga 50 ribu bisa keliling BLP.
Jangan terkejut nanti bila menumpang becak. Meskipun jalanan sempit didepan rumah warga, si abang becak tak pernah pelan mengayuh becaknya. Hampir semua begitu laju mengendarai becak. Tetapi mereka nampak sangat lihai dan bisa mengendalikan kendaraan beroda tiga itu. Geleng-geleng kepala...


Diujung pelabuhan ada pangkalan becak


Tiba di ujung jalan sempit menuju pantai Pasir Putih, kami diturunkan.  Karena becak sudah tidak boleh lebih masuk lagi.  Berjalan sedikit ke pintu masuk yang dikelola oleh salah satu warga. 
Harga tiket masuk 5 ribu perorang. Ada beberapa meja kursi dari semen disana. Namun kami langsung menuju gazebo yang jumlahnya cuma satu itu sebelum keduluan orang.


Dokumen by: Srinovia

Teman kami yang memang tinggal di BLP ini sudah menunggu kami. Di gazebo langsung digelar semua bekal yang disediakan untuk kami yang dari Batam. 
Ada roti kirai, sambal bilis, mie goreng dan beraneka macam masakan.


Dokumen by: Srinovia, masakan Risda Snack (imel)


Sambil menyajikan makanan, kami ngobrol tentang apa yang jadi keunggulan di BLP.
Banyak mangga..😄 
Hampir setiap rumah mempunyai pohon mangga, dan berbuah sepanjang masa. 
Selain itu, gonggong mudah didapat karena orang disana banyak bekarang. Ketika saya tanyakan bekarang itu apa? ternyata sebtan untuk pergi ke laut mencari gonggong.
Biasanya kalau sore mencari gonggong, kalau malam dapatnya udang.


Dokumen by: Srinovia, Ngobrol di gazebo


Obrolan berlanjut tentang keinginan menginap. Di BLP ada beberapa penginapan, salah satunya ada Hotel Asia.
Jika ingin berkemah, bisa meminta ijin pada pengelola pantai Pasir Putih. Atau.. biasanya anak-anak Pramuka berkemah di Lapangan Indra Sakti. Dari pelabuhan belok kiri.  Dulu di Lang-lang (dataran lang-lang laut), tapi sekarang banyak orang berjualan jadi ramai dan kurang asyik untuk berkemah.

Dokumen by: Srinovia


Tak terasa air laut sudah mulai pasang, menandakan hari mulai petang.  Kami berkemas untuk meninggalkan pantai.  Dan bergeser berjalan menuju rumah teman kami, kak Imel. Lumayan jauh dari pantai. Saya dibonceng kak Imel dengan motor, sambil memanggil beberapa becak untuk menjemput teman-teman.


Setelah singgah beberapa jam, akhirnya kamipun memutuskan pulang kembali ke Batam. Dan sesampai di pelabuhan, kami juga di persilahkan singgah ke counter oleh-oleh Almira Cake and Bakery.
Dari sana kami benar-benar seperti turis, yang pulang membawa banyak oleh-oleh.

Dokumen by: Srinovia


Kalau ingin cerita yang lebih seru, baca disini ya.  Yuk kita ke pulau Penawar Rindu....